Jumat, 30 Oktober 2015

Media "akhirnya" Bersuara





Untuk pertama kalinya National Geographic Indonesia memutuskan untuk tidak memasang foto/ilustrasi pada edisi November 2015 nya. Padahal kita ketahui, NGI merupakan majalah yang selalu mengedepankan foto-foto hasil mahakarya fotografer yang sangat indah dan tidak biasa, namun untuk edisi kali ini mereka memutuskan untuk tidak memasang foto apapun, mereka menganggap "tidak ada gambar yang cukup indah untuk menggambarkan perubahan iklim."
Bukan rahasia umum, isu perubahan iklim sudah menjadi perbicangan selama hampir beberapa tahun belakangan ini, domino efek yang dihasilkan sangat beragam, mulai dari tenggelamnya pulau, kepunahan flora fauna, perubahan iklim yang sangat ekstrem yang dapat kita rasakan hingga saat ini. Masalah asap yang menimpa saudara2 kita yang berada di Sumatera dan Kalimantan masih belum menemukan titik terang solusinya. Saya sungguh apresiasi terhadap media-media yang saat ini mulai "bersuara" seperti sebelumnya koran Republika yang mem-blurkan cover depan nya sebagai keprihatinannya atas bencana asap yang hingga mengakibatkan kematian pada balita dan lansia. Akankah kita masih duduk saja dan menunggu hasil dari kemarahan alam akibat ulah manusia menghampiri kita? Hingga saat itu kita telah sadar bahwa semua sudah terlambat.

Salam,

Endhe

Should we proud called ourself human, who have an intellegences but no heart ?

[1 minute video that would change your perspective]

This may come as a SHOCK to you, but pain is pain in the animal kingdom. The human animal doesn’t feel pain any differently than our bunny counterparts.
So if someone tied you down to rip the hair from your scalp, wouldn’t you scream? Wouldn’t you try to escape? See this video and stop at 0:43

...but why they dont just shave them instead of plucking it ?
Because they're driven by profit, plucking ensures a minimum of guard hair (the top layer consisting of longer, generally coarser, nearly straight shafts of hair that protrude through the down hair layer). Shearing produces slightly lower quality fleece, as the guard hairs are included.

Do you still wanna use any kind of fur to make you more beautifully beautiful ??

Thankyou People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) to help us 'see' the world clearly.


Regards,

Endhe

Harmonisasi Alam Melalui Minyak Kelapa Sawit yang Berkelanjutan


"If We look after Earth, Earth will look after Us"



http://gis.wwf.or.id/wwf/wp-content/uploads/sumatra_deforestasi-782x1024.jpgKelapa sawit merupakan tumbuhan penting yang telah dikenal oleh banyak masyarakat sebagai penghasil minyak industri. Setengah dari produk yang dijual di supermarket mengandung minyak kelapa sawit, mulai dari produk deterjen, margarin, sampo, pasta gigi, adonan pizza, es krim hingga coklat! Namun, banyak produk yang mengandung minyak kelapa sawit tidak menuliskannya pada kemasan melainkan menggunakan nama lain seperti Sodium Lauryl Sulphate(SLS) pada sabun cuci tangan dan Glycerine pada kosmetik. Alasan penggunaan minyak kelapa sawit pada produk sehari-hari dikarenakan minyak kelapa sawit membuat cita rasa makanan menjadi lebih baik, dan lebih tahan lama, juga membuat tekstur yang sempurna[1]. Sayangnya, kelapa sawit juga berkontribusi terhadap perubahan fungsi hutan menjadi lahan perkebunan yang telah mengakibatkan kerusakan pada ekosistem. Deforestasi[2] pada hutan-hutan khususnya hutan di Sumatera dan Kalimantan telah merusak habitat hewan-hewan seperti gajah, harimau, orang utan dan sebagainya hingga memaksa hewan-hewan tersebut kontak fisik dengan manusia yang mengakibatkan konflik diantara mereka. Hasilnya adalah pemberitaan tentang pengurangan angka populasi hewan yang terus menyusut setiap tahunnya. Namun tak dapat dipungkiri, bahwa masuknya industri kelapa sawit ke Indonesia juga mempunyai dampak baik. Industri tersebut telah menaikan angka kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan. Hal itu dikarenakan aktivitas perkebunan kelapa sawit melibatkan banyak tenaga kerja dan investasi yang relatif besar, sehingga dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di pedesaan, menumbuhkan dan menciptakan lapangan kerja yang pada akhirnya berdampak pada perbaikan ekonomi masyarakat.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRFjikmt-H8PSt859zDHxMLN6W2jDEQbIAun6k6KyfIpCVlSiudIrNnHaHwcUs3ZPkxVgok8vNQBX3_eS_zSZ2muJiUCHwypL9F1p-z7Fwr5k1m2HB2Jfuv3A8Lc05LV2V4mGzR8yiAz4/s1600/131.jpg
Lantas adakah cara untuk menyeimbangkan kerugian sekaligus kebaikan yang dihasilkan oleh kelapa sawit agar tidak ada pihak yang dirugikan? Yup, tentu saja ada! Sebagai konsumen kita dapat membantu mengupayakan hal tersebut. Caranya adalah ubah perilaku konsumsi kita dengan membeli produk yang berlogo RSPO, dengan adanya logo tersebut, perusahaan tersebut telah mendapatkan sertifikasi yang dapat membantu untuk menjaga kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Meskipun tampak sederhana namun dengan adanya sertifikasi tersebut perusahan telah menjamin bagi kondisi kerja yang berkeadilan untuk para pekerjanya, tidak akan adanya sengketa lahan dengan masyarakat setempat, tidak akan adanya pembukaan lahan yang tidak ramah lingkungan (bebas deforestasi ilegal), melindungi dan membuatkan rumah konservasi bagi hewan-hewan yang hampir punah. 


http://www.unitata.com/wp-content/uploads/rspo_certificate_logo_thumbnail.png
Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO) telah mempromosikan praktik produksi minyak sawit bekelanjutan yang membantu mengurangi deforestasi, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghargai kehidupan masyarakat pedesaan di negara penghasil minyak kelapa sawit. RSPO sendiri merupakan organisasi non-profit yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit - produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank & investor,dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengembangkan dan mengimplementasikan standar global kelapa sawit yang berkelanjutan[3]. Sayang belum semua produk yang dijual di pasaran telah memiliki sertifikasi ini. Faktanya, tidak ada satupun produk-produk yang dijual di Indonesia baik minyak goreng ataupun makanan yang telah berlogo RSPO, alasannya karena tidak ada konsumen (yaitu kita) yang meminta, padahal sejuta manfaat dapat didapatkan hanya dari sebuah logo. Maka dari itu sebagai konsumen kita berhak untuk menekan produsen penyedia kebutuhan sehari-hari kita untuk segera melabelkan logo RSPO pada produk-produknya. Percayalah, produsen selalu mengutamakan kepentingan konsumennya, apabila kita terus menerus menekan produsen untuk mendapatkan sertifikasi RSPO maka akan lebih banyak kebaikan & keseimbangan yang tercipta. Untuk informasi produk yang telah berlogo RSPO dapat di lihat di http://www.rspo.org/trademark/trademark-products-gallery
Siapa bilang kita tidak bisa membantu mengurangi bahkan menghilangkan kebakaran hutan yang selalu terjadi setiap tahunnya? Siapa bilang bahwa anak cucu kita hanya akan melihat Orang Utan lewat internet? Siapa bilang kita tidak dapat berkontribusi untuk pelestarian lingkungan. Segala macam solusi yang dapat diterapkan berawal dari hal yang sederhana & konsisten. Hal tersebut masih bisa dilakukan,tidak akan pernah ada kata terlambat! Marilah menjadi konsumen yang peduli dengan membeli produk yang tidak membakar hutan atau membunuh hewan, karena setiap pemecahan masalah yang dilakukan pasti melibatkan kita. Karena apa yang kamu beli adalah apa yang kamu dukung, ayo kita #BeliyangBaik.

http://www.beliyangbaik.org/assets/images/logo_color.png


Salam hangat,

Endhe







Source :
[2] Deforestasi merupakan proses penghilangan hutan alam yang disengaja dengan cara menebang pohon untuk diambil kayunya atau mengubah fungsi lahan hutan menjadi non-hutan.
[3] Op.cit.,